Teknologi Baru Pengenalan Wajah Untuk Bandara Soekarno-Hatta 2021

Teknologi Baru Pengenalan Wajah Untuk Bandara Soekarno-Hatta 2021

Teknologi Baru Pengenalan Wajah Untuk Bandara Soekarno-Hatta 2021 – Teknologi identifikasi wajah terus menjadi dibutuhkan dari endemi Covid- 19 buat melindungi keamanan, tercantum akan dipasang di Lapangan terbang Soekarno- Hatta

haberby.net Andap Budhi Revianto, Sekretaris Jenderal departemen Hukum serta HAM, memohon tiap kantor area buat memperketat serta melindungi aturan kesehatan pada perlintasan yang dilewati dari mancanegara ataupun WNA.

Salah satu pengetatan aturan kesehatan bisa dicoba dengan pengenalan banyak orang yang tiba ke Indonesia dengan teknologi yang lebih maju semacam teknologi identifikasi wajah.

Mengutip halaman haberby, teknologi identifikasi wajah ataupun face recognition ialah teknologi biometric yang banyak digunakan buat sistem keamanan.

Sistem ini memakai webcam buat membekuk pandangan wajah orang. Setelah itu buruan itu hendak dibanding dengan pandangan wajah yang sempat tersembunyi tadinya. Dalam pencocokan wajah ini, ada 2 bagian pengetesan ialah False Acceptance Rate( FAR) serta False Rejection Rate( FRR).

Sesungguhnya telah banyak yang mempraktikkan teknologi identifikasi wajah dalam sistem keamanan semacam perlengkapan pengenalan, teleconference, penjagaan bangunan, serta ATM. Pada biasanya, sistem ini dipecah jadi 2 tipe ialah feature- based serta image- based.

Pada feature- based memakai karakteristik ekstraksi dari bagian pandangan wajah ialah mata, hidung, mulut serta bentuk geometris dihubungkan dengan identitas pandangan wajah. Sebaliknya image- based,

memakai data dari piksel pandangan yang diperoleh dari orang, kemudian direpresentasikan pada sesuatu bentuk semacam Principal Component Analysis( PGA).

Sistem teknologi identifikasi wajah terus menjadi disukai semenjak endemi menyerang. Teknologi identifikasi periksa jemari serta pemindaian retina pula tercantum dalam sistem teknologi biometric.

Tetapi, dari endemi, gesekan serta gerombolan jadi aktivitas yang dijauhi. Oleh sebab itu, teknologi identifikasi wajah jadi sistem keamanan yang dipakai di bermacam tempat.

Baca Juga :  BuddyKu Jadi Informasi Platform Teknologi Artificial Intelligence 2021

Negeri yang sudah memakai teknologi penjagaan ini salah satunya merupakan Amerika Sindikat. Halte pada lapangan terbang Amerika Sindikat sudah memakai teknologi identifikasi wajah buat check in, kir keamanan, menaiki pesawat, serta yang lain.

Mengutip halaman haberby, khasiat teknologi penjagaan ini merupakan keamanan yang lebih bagus, gampang berintegrasi dengan sistem, dan otomatis teridentifikasi.

Tetapi, teknologi yang akan dipasang di Lapangan terbang Soekarno- Hatta ini membutuhkan tempat penyimpanan informasi yang besar serta berpotensi melanggar pribadi orang.

Gambar Rektor Institut Teknologi Bandung( ITB), Reini Wirahadikusumah dijadikan peninggalan digital dalam wujud non fungible token( NFT). Gambar itu diunggah dengan tagar#ReiniOut.

Kedua gambar Rektor ITB itu dijual di marketplace NFT, OpenSea. Ada 2 gambar dengan opsi close up serta biasa shoot, menggunakan jaket almamater ITB.

Reini sendiri ialah rektor ITB yang mulai berprofesi pada 2020 kemudian, beliau jadi rektor perempuan ITB semenjak kampus itu dibuat.

NFT merupakan merupakan arsip digital yang bukti diri serta kepemilikannya diverifikasi lewat kaitan gulungan( blockchain). Pengunggah menjual NFT itu melalui blockchain Ethereum.

Buat membelinya konsumen wajib mempunyai akun dompet digital kripto, di antara lain Coinbase, Wallet, MetaMask, WalletConnect, Fortmatic serta sedang banyak lagi.

Peninggalan digital NFT gambar Rektor ITB diunggah oleh akun ITB1920. Tercatat di kolom cerita seakan ialah wujud kritis dari mahasiswa ITB.

Pengunggah melabeli kedua koleksi gambar itu dengan hastag#ReiniOut. Setelah itu gambar yang diunggah dipanggil Bunda Rektor Terkasih#1 serta Bunda Rektor Terkasih#2.

Sampai saat ini kedua NFT itu sudah diamati ribuan kali di OpenSea.

Kolom cerita pada artikel itu bersuara bunyi kritik pada Reini. Pengunggah memperhitungkan Reini tidak legal seimbang pada pengarang cerita.

” Masuk ke ITB, kukira saya hendak mengalami peluang yang berbanding untuk seluruh. Tanpa memandang semacam apa saya dulu, tanpa memandang muka serta dari mana saya berawal, pula tanpa memandang seberapa banyak modul yang kumiliki,” tercatat di situ.

” Kukira pula, batin seseorang bunda mempunyai integritas yang tidak terbatas pada buah hatinya… Tetapi apa yang kulihat tampaknya berlainan. Ibuku mengelak dikala dibawa ucapan, ibuku lebih memilah mesem pada bumi serta menoleh dari buah hatinya,” sambungnya.

Sampai saat ini belum dikenal tentu pihak yang bertanggung jawab atas artikel itu.

CNNIndonesia. com sudah coba memohon asumsi pihak ITB pada Kamis( 11/ 11) siang. Tetapi sampai informasi ditulis belum menemukan balasan.

Kepopuleran NFT kian bertambah belum lama ini, bersamaan melonjaknya gaya pemodalan crypto currency sepanjang endemi Covid- 19.

Tadinya seseorang anak 12 tahun asal Inggris, Benyamin Ahmed menjual emoji piksel ikan paus hasil kreasinya dengan harga 290 ribu Poundsterling( dekat Rp5. 7 miliyar).

Emoji yang dijual oleh Ahmed dikenal Weird Whales. Emoji yang terbuat dengan bentuk piksel digital itu berjumlah 3. 500 tipe serta dilego melalui NFT.

Terdapat pula brand ternama Gucci mengeluarkan koleksi sneaker terkini wujud virtual dengan mengadopsi teknologi augmented reality( AR) serta NFT, pada Maret kemudian.

Sepatu virtual dijual dengan harga US$8, 99 ataupun sebanding dengan Rp130 ribu di aplikasi Wanna. Sebaliknya di aplikasi Gucci, sepatu ini dapat diterima dengan harga US11, 99 ataupun dekat Rp172 ribu.

BuddyKu Jadi Informasi Platform Teknologi Artificial Intelligence 2021 Previous post BuddyKu Jadi Informasi Platform Teknologi Artificial Intelligence 2021
Next post Perusahaan Virgin Dikecam Bandara Sydney Australia